TESTOSTERON RENDAH BISA MEMATIKAN, BEGINI MENGATASINYA!

Ketahui dan perbaiki kadar testosteron Anda agar terhindar dari risiko mematikan.

Waspadai jika Anda pria lanjut usia yang merasakan gejala-gejala seperti penurunan libido, disfungsi ereksi, mudah lelah, mudah berkeringat, lingkar pinggang bertambah, dan mengantuk setelah makan. Seiring bertambahnya usia, sangat mungkin gejala-gejala tersebut terjadi. Tapi Anda juga perlu curiga hal lain. Sebab, bisa saja gejala tersebut merupakan pertanda Anda telah mengalami penurunan testosteron, yang disebut sebagai hipogonadisme atau sindrom defisiensi testosteron (Testosterone deficiency syndrome=TDS).

Penurunan testosteron pada pria terjadi secara alami bersamaan dengan bertambahnya usia. Penurunan itu bisa terjadi sejak menginjak usia 20 tahun dan persentase penurunannya sekitar 2-3 persen per tahun. “Maka di usia 40 tahun kadar testosteron menjadi sekitar  65-70% dan pada usia 60 tahun ke atas sekitar 45-50% dari usia 25 tahun,” kata dr. Johannes Soedjono, M.Kes., Sp.And dari Falkutas Kedokteran Universitas Hang Tuah Surabaya, Jawa Timur. Ia menyampaikan hal tersebut dalam sebuah diskusi media yang diselenggarakan oleh Bayer, Kamis (2/6) lalu di Jakarta.

Namun, ada sebagian pria yang mengalami kondisi yang disebut hipogonadisme, yang dicirikan dengan kadar testosteron rendah dan mengalami libido rendah. Untuk mengetahui apakah Anda mengalami hipogonadisme atau tidak adalah dengan periksa testosteron. Kadar rendah testosteron menurut European Society of Sexual Medicine (ESSM) adalah 300 ng/dl.

Tapi, sebelum itu, ketahui dulu tanda-tandanya seperti di bawah ini:

1. Gairah seks hilang

Memang, bisa jadi lenyapnya gairah seks Anda terjadi karena satu hal lain seperti stres. Karena itu untuk mengetahui secara tepat Anda perlu berkonsultasi dengan dokter, apalagi jika kondisi ini sudah mulai mengganggu kehidupan seks Anda.

2. Sulit ereksi

Sulit ereksi merupakan gejala hipogonadisme yang umum terjadi. Jika Anda menemukan diri Anda sulit ereksi, segera saja berkonsultasi ke dokter. Bisa jadi ini juga karena terkait erat dengan penyakit jantung dan pembuluh darah.

3. Perubahan bentuk tubuh

Produksi keringat, kelenjar folikel rambut, dan pertumbuhan rambut sangat berhubungan dengan hormon testosteron. Hormon ini juga terkait dengan estrogen, hormon yang berpengaruh pada perkembangan payudara. Maka, jika Anda menyadari payudara Anda mulai membesar atau Anda kumis dan jenggot Anda tak lagi tumuh, ini saatnya melakukan periksa testosteron.

4. Tulang rapuh

Testosteron berperan penting untuk menjaga kepadatan tulang yang normal. Oleh karenanya, Anda perlu waspada jika ternyata dokter menyebutkan Anda mengalami kerapuhan tulang.

5. Merasa seperti menopause

Kadar testosteron yang rendah pada pria bisa memicu gejala mirip menopause, misalnya, serangan panas di wajah dan berkeringat pada malam hari.

6. Depresi dan gangguan suasana hati

Beberapa tahun terakhir banyak penelitian yang membuktikan bahwa penurunan kadar testosteron selain menyebabkan penurunan kepadatan tulang dan peningkatan insiden patah tulang, juga menyebabkan penurunan sel darah merah, penurunan massa otot dan peningkatan lemak, serta depresi dan gangguan suasana hati.

Sindrom metabolik

Dalam diskusi media yang digelar oleh Bayer juga dipaparkan fakta-fakta dan informasi penelitian ilmiah yang sudah teruji kebenarannya (evidence base) yang menunjukkan keterkaitan timbal-balik antara defisiensi testosteron dengan sindrom metabolik yang bisa menjadi pembunuh diam-diam.

Tentu ini harus menjadi perhatian khusus, karena peningkatan risiko terjadinya sindrom metabolik dan penyakit jantung koroner pada akhirnya bisa menyebabkan kematian.

Menurut National Health Institute,USA, sindrom metabolik adalah sekelompok faktor risiko yang dapat meningkatkan risiko penyakit jantung dan masalah kesehatan lainnya, seperti diabetes dan stroke. Menurut berbagai penelitian risiko terjadinya penyakit jantung dan pembuluh darah meningkat dua kali lipat, bahkan terjadinya diabetes meningkat lima kali lipat, apabila seseorang menderita sindrom metabolik setelah 5-10 tahun

Menurut dr. Johannes, faktor-faktor risiko sindrom metabolik cenderung terjadi bersama-sama.  Federasi Diabetes Internasional (IDF) menyatakan faktor risiko tersebut adalah obesitas perut (> 90 cm untuk pria dan > 80 cm untuk wanita Asia), meningkatnya kadar gula darah puasa (> 100 mg/dl), peningkatan trigliserida (> 150 mg/dl) dan penurunanan HDL (< 40 mg/dl untuk pria, < 50 mg/dl untuk wanita,) dan tekanan darah tinggi (> 130/85 mmHg). Seseorang didiagnosa memiliki sindrom metabolik bila setidaknya memiliki tiga hal dari faktor-faktor risiko tersebut.

Dokter Johannes menjelaskan, kelebihan lemak di area perut merupakan faktor risiko yang lebih besar untuk penyakit jantung dibandingkan kelebihan lemak di bagian lain, seperti pada pinggul. Demikian pula dengan tekanan darah tinggi atau hipertensi. Jika tekanan ini meningkat dan tetap tinggi dari waktu ke waktu, hal itu dapat merusak hati dan menyebabkan penumpukan plak.

“Jika seorang pria menderita sindrom metabolik, maka kemungkinan pria tersebut mengalami hipogonadisme meningkat tiga kali lipat, dan angka kematiannya meningkat sekitar satu setengah kali,” katanya.

Oleh karena itu untuk mengurangi risiko kematian akibat penyakit jantung pada pria dengan hipogonadisme, baik yang disertai sindrom metabolik ataupun yang belum, pemberian terapi sulih hormon testosteron sangatlah penting untuk memotong rantai hubungan timbal balik tersebut. Semakin berat keluhan hipogonadisme yang timbul, semakin besar kemungkinan yang bersangkutan terkena penyakit jantung dan pembuluh darah.

Penelitian membuktikan bahwa terapi testosteron dapat memperbaiki setiap komponen sindrom metabolik, mengurangi massa lemak, memperbaiki massa otot, menurunkan kadar gula, memperbaiki sensitivitas insulin, memperbaiki lipid sehingga kolesterol LDL dan trigleserid dapat turun dan HDL meningkat, dapat mengurangi tekanan darah baik sistolik maupun diastolik.

Namun begitu, “Seperti halnya dengan penyakit lain, gaya hidup sehat adalah syarat mutlak, apabila seseorang ingin tetap sehat sampai di hari tua,” ujar dr. Johannes.

 

Memacu Produksi Testosteron

Beberapa kebiasaan mudah ini bisa membantu Anda mendongkrak kadar testosteron dalam tubuh:

  1. Kurangi lemak dan tambah volume otot. Ini karena sel-sel lemak, khususnya di daerah perut memproduksi enzim aromatase yang mengubah testosteron menjadi estrogen.
  2. Kurangi alkohol. Banyak minum alkohol akan meningkatkan hormon estrogen sehingga mengurangi kemampuan tubuh untuk memproduksi testosteron.
  3. Cukup tidur yang berkualitas. “Jatah” tidur kita sekitar 8-9 jam per hari. Jika Anda tidak bisa mencapai jangka waktu tersebut, atau Anda mengalami gangguan tidur, maka kadar testosteron akan menurun.
  4. Mandi matahari. Sinar matahari pagi diperlukan untuk menjaga fungsi otak kita bekerja optimal. Ini akan berdampak pada produksi testosteron yang maksimal.
  5. Hindari stres. Jenis stres yang baik dapat menguntungkan bagi hormon, dan stres yang buruk membahayakan hormon. Stres emosional sering menjadi penyebab menurunnya kadar testosteron, sedangkan stres kronis tidak hanya mengganggu fungsi testosteron tapi juga kekuatan otot tubuh. Berkurangnya kekuatan itu menyebabnya terjadinya penuaan dini dan menyumbang terjadinya penyakit kardiovaskular.

 

Pria dan Testosteron

  1. NewYork Magazine, dalam artikel berjudul “The He Hormone” menyebut bahwa bila ada dua pria bersama dalam satu ruangan, pria dengan kadar testosteron lebih tinggi akan cenderung mendominasi pembicaraan.
  2. Dr. Alan Booth, profesor sosiologi dan perkembangan manusia dari Penn State University meneliti efek testosteron pada pemain tenis pria. Hasilnya, hormon itu kadarnya meningkat pesat sesaat sebelum mereka berkompetisi. Setelah kompetisi berakhir kadarnya akan terus naik, membuat seorang pemenang merasa tak terkalahkan dan memicu hasratnya untuk berkompetisi kembali.
  3. Dr. Paul Bernhardt dari University of Utah mencoba mempelajari kadar testosteron pada pria yang sedang menonton pertandingan sepakbola atau bola basket. Penggemar bola basket yang menyaksikan timnya memenangkan pertandingan meningkat kadar testosteron sebanyak 20 % dan pada penggemar yang timnya kalah menurun sebanyak 20% pula.

 

Kaisar Pamanah

WhatsApp chat