JAWABAN DOKTER

Selamat siang Pak Dedi,

dalam kehidupan berumah tangga, problematika seksual pasti pernah akan didapatkan, entah itu suami mengalami ejakulasi dini, tidak ada minat seksual, ataupun gangguan ereksi. Begitu pula dengan sang istri, dapat mungkin pula terjadi hilangnya atau penurunan hasrat seksual, kurangnya lubrikasi, sulitnya orgasme, bahkan nyeri saat hubungan seks. Jika permasalahan tersebut timbul sesekali, tidak menetap, dan tidak mempengaruhi romantisme dan keharmonisan rumah tangga maka terapi obat-obatan belum begitu dibutuhkan dan masalah tersebut masih dapat dikesampingkan. Oleh karena itu, setiap masalah seks timbul, apapun ceritanya, alangkah bijaknya kita sharing kepada ahlinya, kepada dokter seksologi, yang akan memberikan ketegasan dan informasi apakah kita benar-benar mengalami gangguan seksual atau tidak.

Berbicara tentang ejakulasi dini, kami mengelompokkan ejakulasi dini menjadi 4 kategori, yaitu: Kategori I, apabila ejakulasi terjadi pada awal terangsang atau saat foreplay; Kategori II, durasi antara awal penetrasi dan ejakulasi kurang dari 1 menit; Kategori III, durasi antara awal penetrasi dan ejakulasi kurang dari 20 genjotan penetrasi dengan kecepatan genjot 1-3 detik/genjotan; Kategori IV, durasi capaian ejakulasi yang dihitung sejak awal penetrasi, kurang dari 10 menit dan pasangan wanitanya tidak mencapai orgasme lebih dari 50 % dari total frekuensi hubungan seksualnya. Keempat kategori ini harus disertai ketidakpuasan seksual dari sang pria maupun kedua belah pihak sehingga diperlukan terapi khusus. Namun, apabila ejakulasi terjadi lebih dari 10 menit tetapi pasangan wanitanya belum mendapatkan orgasme, maka diperlukan edukasi seksual, terapi psikoseksual, terapi perilaku seksual, dan mungkin pula pertimbangan terapi obat-obatan dari salah satu pasangan tersebut. Sedangkan apabila capaian ejakulasi dengan durasi lebih dari 20 menit, sangat dimungkinkan sang pria beresiko ataupun mengalami delay/prolonged ejaculation atau ejakulasi tarda.

Ejakulasi dini disertai dengan penurunan volume sperma juga dapat dijumpai pada penderita Diabetes Melitus (DM). Atasi penyakit penyertanya (kontrol indeks glikemik) merupakan hal utama penanganan masalah tersebut, akan tetapi kadang pula dibutuhkan obat-obatan yang dapat memperpanjang ejakulasinya. Sedangkan problem melemahnya pancaran ejakulasi dapat disebabkan karena semakin berkurangnya volume sperma yang dihasilkan. Namun, jika volume sperma lebih dari 1,5 ml tetapi pancaran ejakulasi masih melemah maka dapat dianjurkan program latihan kegel selama 12 bulan untuk meningkatkan pancaran ejakulasi. Sedangkan perilaku sering onani saat muda, belum ada bukti penelitian yang menjelaskan berdampak pada ejakulasi dini dan penurunan volume sperma dikemudian hari.

DM dan merokok jelas berhubungan dengan menurunnya mutu sperma, baik kuantitas maupun kualitasnya. Nah, dikatakan gangguan kesuburan apabila pasangan suami-istri belum mendapatkan momongan meskipun rutin melakukan hubungan seksual tanpa kontrasepsi selama 1 tahun. Apabila Pak Dedi termasuk dalam kategori tersebut, alangkah baiknya segera datang ke klinik reproduksi ataupun rumah sakit ibu dan anak, maupun langsung ke dokter andrologi serta dokter obstetri dan ginekologi.

Semoga keinginan Bapak untuk mendapatkan momongan segera terwujud serta masalah seksualnya dapat segera teratasi agar kehidupan rumah tangga Bapak tetap harmonis dan bahagia. Perihal problematika seksual, On Clinic Indonesia dapat membantu mengatasi hal itu.

Terima kasih,

Salam hangat.